DinastiNews.Com||KEPAL (Kelompok Pemuda Aksi Lingkungan) angkat bicara terkait penutupan pedagang di Alun-alun Malingping yang dilakukan oleh pihak pengelola alun-alun berinisial A. Mereka menuntut pengelolaan alun-alun yang lebih transparan dan tertib. ¹
Ketua KEPAL Pandu Hartanto biasa di panggil Zilong menjelaskan bahwa inisial A adalah sebagai koordinator dan yang memegang sepenuhnya keuangan terkait salaran/pungli. Dan secara sepihak melakukan penutupan alun-alun tanpa ada pemberitahuan kepada pemuda lingkungan desa malimping utara.
Yang menjadi ironis padahal pada siang hari nya, senin (13/04) pihak Kecamatan Malingping sudah melakukan mediasi di dalam Kantor Kecamatan dan dihadiri oleh Camat Malingping, Kepala Desa Malingping Utara, Kasi Trantib, koordinator pedagang yang berinisal A, unsur mahasiswa dan unsur pemuda lingkungan dengan menghasilkan sejumlah poin. Diantara poin tersebut tidak ada poin untuk melakukan penutupan para pedagang di alun-alun, kenapa secara tiba tiba pada malam hari nya koordinator ini secara sepihak mengumumkan bahwa para pedagang tidak bisa berjualan dulu dengan alasan takut ada nya percikan kecil di lapangan tanpa adanya pemberitahuan kepada unsur mahasiswa ataupun unsur lingkungan.
ZILONG sebagai salah satu unsur yang ikut hadir saat mediasi di Kecamatan mengutarakan kekecewaannya.
“Saya sungguh kecewa, karena siang hari pada saat rapat di Kecamatan tidak ada itu pembahasan penutupan pedagang, kenapa saat pada malam harinya tiba-tiba ada voice note dari koordinator bahwa besok tidak bisa berjualan dulu atas dasar rapat para muspika dan adanya percikan percikan, ini maksud percikannya seperti apa. Karena saat rapat semua sudah sepakat, jangan jangan ini ada pihak yang memang dengan sengaja membuat percikan dan seolah olah membuat narasi kalau penutupan para pedagang ini adalah karena adanya aksi solidaritas pada hari minggu.”ungkapnya
Lebih lajut Zilong menjelaskan ada apa dengan koordinator, kenapa secara sepihak memberikan statement untuk menutup sementara para pedagang, apa mungkin koordinator ini diintervensi oleh oknum oknum atau memang koordinator ini memang tidak mau ikut serta membenahi tata kelola biar lebih transparan mengenai anggaran.
Perlu diketahui Aksi solidaritas yang terjadi, minggu (12/04) adalah bentuk kepedulian unsur mahasiswa dan masyarakat agar alun alun Malingping bisa terlihat lebih bagus dan juga supaya jangan ada lagi dugaan praktik jual beli lapak kosong yang sudah sering terjadi di alun alun Malingping.
Salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa saat dia ingin memulai berdagang di alun-alun di mintai uang senilai Rp. 200.000 (dua ratus ribu rupiah) diluar salaran, listrik dan kebersihan. Bahkan ada juga yang bayar lebih dari nominal yang ia keluarkan.
Catatan bahwa alun-alun Malingping adalah salah satu pusat kuliner dan bermain untuk masyarakat umum.
Zilong berharap agar masalah yang sedang terjadi saat ini agar cepat terselesaikan dan akan ikut berperan aktif dalam penyelesaian ini dikarenakan banyak para pedagang yang harus memberi nafkah kepada anak dan istrinya. Zilong juga menghimbau para pedagang agar jangan termakan issue yang beredar saat ini kalau penutupan ini adalah akibat aksi solidaritas yang saat itu di lakukan. Dan, apabila sudah bisa berdagang agar para pedagang juga harus ikuti peraturan serta ikut menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban alun alun Malingping ini.
(Addin).














