ACEH TAMIANG, 20 Januari 2026 – Upaya penanganan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera masih terus berlangsung. Selain mengerahkan sejumlah besar alat berat, penanganan itu kini dilakukan dengan mengimplementasikan Program Padat Karya Tunai (PKT).
Implementasi
PKT yang dilakukan oleh Kementerian PU ini tidak hanya fokus pada upaya
pembersihan dan perbaikan fisik infrastruktur, tetapi juga memberikan bantalan
ekonomi bagi masyarakat terdampak. Hingga 17 Januari
2026, tercatat sebanyak 44.954 warga lokal telah terlibat dalam program ini.
Program PKT juga menjadi wujud nyata kehadiran pemerintah
dalam memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat di Provinsi Aceh, Sumatera
Utara, dan Sumatera Barat. Pembersihan material sisa bencana, seperti lumpur
yang menumpuk di fasilitas publik dan permukiman, dilakukan secara intensif
dengan melibatkan partisipasi aktif warga.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan
pascabencana memiliki dua dimensi, yaitu pemulihan fisik dan pemulihan ekonomi.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan upaya
menggerakkan kembali roda perekonomian warga yang sempat lumpuh.
“Tugas kita salah satunya bersih-bersih, dan itu
kita kerjakan 24 jam, di-support penuh
oleh TNI, Polri, dan masyarakat melalui pola padat karya. Kita harus bergerak
cepat supaya perekonomian segera bergulir lagi. Masyarakat harus segera punya income (pendapatan) kembali, apalagi banyak
yang sebelumnya petani dan usahanya rusak akibat bencana,” ujar Menteri
Dody.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU menerapkan strategi
taktis di lapangan. Untuk lokasi-lokasi yang sulit dijangkau oleh alat berat,
pengerjaan dioptimalkan menggunakan tenaga manusia (padat karya) dengan
dukungan peralatan berukuran kecil. Metode ini terbukti efektif menjangkau
seluruh area terdampak hingga ke sudut-sudut permukiman padat dan fasilitas
umum vital, memastikan proses pemulihan berjalan menyeluruh.
Dampak positif program ini dirasakan langsung oleh
masyarakat. Di SMK 3 Aceh Tamiang, misalnya, meskipun genangan lumpur masih
terlihat pada Senin (19/1/2026), aktivitas pembersihan yang dilakukan warga
memberikan harapan baru.
Tri Kurniawan, warga Karang Baru, Aceh Tamiang,
menuturkan bahwa Program Padat Karya Tunai menjadi penyelamat ekonominya
pascabencana. Selama dua pekan terakhir, ia terlibat aktif membersihkan lumpur
di lingkungan permukiman, Kantor Kejaksaan Negeri Aceh Tamiang, SMK 3 Aceh
Tamiang, hingga SMP Negeri 2 Karang Baru.
“Alhamdulillah, ada pekerjaan. Kita kan sudah tidak ada
pekerjaan setelah banjir. Kemarin diajak kakak yang kerja di huntara,”
ujar Tri.
Bagi Tri, upah yang diterimanya sangat dapat menopang
kebutuhan hidup sehari-hari dan membantu orang tuanya yang tidak lagi bisa
bekerja akibat bencana.
Hal senada diungkapkan Ikhsan Putra, warga Kuala Simpang.
Sebelum bencana, Ikhsan menggantungkan hidup sebagai pedagang makanan ringan.
Namun, kerusakan lingkungan akibat banjir memaksanya menghentikan usaha.
Melalui pelibatan dalam pembersihan saluran drainase dan fasilitas umum, Ikhsan
kini memiliki penghasilan pengganti.
“Sejak banjir, warung saya tidak bisa jalan karena rumah
dan lingkungan kotor semua. Dengan ikut padat karya ini, saya bisa tetap punya
penghasilan sambil membersihkan daerah sendiri,” tutur Ikhsan, seraya
menambahkan bahwa upah hariannya dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya
sekolah anak-anaknya.
Berdasarkan data Kementerian PU per 17 Januari 2026,
program penanganan bencana berbasis Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) ini
telah menyerap 44.954 orang tenaga kerja. Program ini diharapkan dapat terus
menjadi katalisator bagi warga terdampak untuk bangkit, menata kembali
lingkungan, sekaligus memulihkan kondisi ekonomi masyarakat secara bermartabat.
Program kerja ini merupakan bagian dari “Setahun Bekerja,
Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan ASTA CITA dari Presiden Prabowo
Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#SetahunBerdampak
Artikel ini juga tayang di VRITIMES


