RajaBackLink.com
Berita  

‎Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benar-Benar Memohon Agar Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian Airlangga Turun Tangan Untuk Memasukkan Produk Tekstil Berbahan Baku Kapas US dan Mengklasifikasikan Rayon (Viscose) ‎

‎Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benar-Benar Memohon Agar Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian Airlangga Turun Tangan Untuk Memasukkan Produk Tekstil Berbahan Baku Kapas US dan Mengklasifikasikan Rayon (Viscose) ‎

Dinastinews.com Jakarta  — Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendorong Presiden Prabowo agar menelpon Presiden Trump untuk penurunan tarif ekspor ke US demi memperjuangkan nasib industri padat karya.

‎Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) masih optimis bahwa Pemerintahan Presiden Prabowo tetap akan memperjuangkan tarif ekspor ke US meskipun saat ini hampir merampungkan perjanjian tarif Resiprokal Indonesia dan USA.

‎Menganggapi berita baru baru ini bahwa Menko Perekonomian RI menyampaikan bahwa tarif nol persen ke US, diberlakukan hanya pada komoditas sumber daya alam berbasis tropis (tropical based natural resources). Produk manufaktur seperti tektil, akan tetap dikenai tarif resiprokal 19 persen. Asosiasi menilai bahwa sumber daya alam seperti cotton juga berbasis tropical natural resources. Tentu masih akan mendapatkan atensi dari US.

‎Asosiasi menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi importir utama cotton dari US, hal ini menjadi bagian dari komitmen dunia usaha Pertekstilan dan garment di Indonesia untuk melakukan import senilai 4,5 milyar dollar US produk agri dari US.

‎Ian Syarif, Wakil Ketua Umum API menyampaikan bahwa “Nilai impor cotton itu akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan produksi garmen dan kain berbahan baku cotton dari US untuk permintaan ekspor ke US. Iklim industri TPT yang telah didorong tumbuh bersama pemerintah dan dunia usaha akan berpotensi meningkatkan impor cotton dari US senilai 4,5 milyar USD”.

‎Asosiasi melihat pentingnya kerjasama saling menguntungkan bersama dengan para petani cotton US, sehingga imbal balik perdagangan cotton dan tekstil Indonesia US benar benar bisa memperkokoh hubungan kemitraan di masa depan.

‎Ian Syarif menambahkan “Dengan skema imbal balik antara impor cotton dari US ke Indonesia dan ekspor tekstil garmen berbahan baku cotton dari Indonesia ke US, akan mempersempit gap trade desifit US Indonesia”.

‎Garmen dan tekstil selain yang berbahan baku cotton, juga cukup banyak yang menggunakan bahan baku Rayon, yang diolah dari hutan tanaman industri. Artinya, ini juga produk agro yang dikelola secara sangat baik di Indonesia.

‎”Sebaliknya pemerintah juga bisa melihat secara langsung bagaimana anggota Asosiasi Pertekstilan yang memiliki industry rayon (viscose) di Indonesia sudah diolah dengan sangat profesional dan benar benar memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup, karena proses tanam, pembesaran pohon dan pemanfaatan pohon kayu sebagai bahan dasar rayon sudah menjadi siklus yang sangat baik tanpa mengorbankan lingkungan”, Ian Syarif menambahkan.

‎Asosiasi meminta Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian Airlangga untuk duduk di perundingan negosiasi lagi demi memetakan bahwa industri tekstil dan garmen adalah bagian penting dari komoditas sumber daya alam berbasis tropis yaitu agro industry, dua hal ini adalah kepentingan bersama antara US dan Indonesia, petani cotton dan rayon dan manufakture padat karya. “Asosiasi tetap berharap pemerintah mampu mengkomunikasikan kepentingan dua negara, US dan Indonesia, sehingga tarif nol persen atau setidaknya jauh dibawah 19% bisa diberikan oleh US kepada Indonesia”, tambah Ian Syarif.

‎Kepentingan domestik tentu searah dengan target ambisius Pemerintah saat ini yang mencanangkan serapan 19 juta tenaga kerja. API melihat bahwa hal ini bukan perkara mudah, maka industri yang mampu menyerap tenaga kerja semasif mungkin dengan investasi yang tidak terlalu besar musti digencarkan seluas luasnya. Itu Adalah sektor padat karya, industri garmen dan tekstil, juga alas kaki.

‎Saat ini, sektor padat karya mampu menyerap sekitar 3,97 juta tenaga kerja, merupakan 20% dari total tenaga kerja industri manufacture dalam negeri. Dalam dua tahun kedepan, jika pemerintah dan dunia usaha benar benar bisa bersinergi untuk mempertahankan dan memperkuat kebijakan publik pada sektor padat karya, itu bisa membuka lebih dua kali lipat tenaga kerja.

‎Asosiasi Pertekstilan Indonesia benar- benar memohon agar Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian Airlangga turun tangan untuk memasukkan produk tekstil berbahan baku kapas US dan Mengklasifikasikan rayon (viscose) sebagai produk tropis bernilai tambah, sehingga industri padat karya bisa melindungi jutaan lapangan kerja dengan dalam skema daftar prioritas tarif resiprokal 0%.

‎(Hera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *