Oleh : Meirsa Sawitri Hayyusari
Bandung – Islam memandang kesehatan sebagai bagian penting dari kehidupan manusia yang tidak hanya terbatas pada kondisi fisik, tetapi juga mencakup keseimbangan mental, spiritual, sosial, dan intelektual. Konsep ini dinilai semakin relevan di tengah tantangan kesehatan modern yang kian kompleks, mulai dari penyakit degeneratif hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental.
Dalam ajaran Islam, kesehatan merupakan hak asasi sekaligus amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Hal ini ditegaskan dalam berbagai sumber utama Islam, Al-Qur’an dan Hadis, yang menjadikan kesehatan sebagai fondasi utama bagi manusia dalam menjalankan perannya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat besar yang sering diabaikan. “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan sering kali baru muncul setelah nikmat tersebut hilang.
Sehat Tidak Sekadar Bebas Penyakit
Dalam perspektif Islam, sehat tidak hanya berarti terbebas dari penyakit. Secara etimologis, kata sehat dalam bahasa Arab bermakna baik dan berfungsinya seluruh anggota tubuh, sementara afiat diartikan sebagai perlindungan Allah dari berbagai keburukan. Dengan demikian, kesehatan mencakup berfungsinya seluruh potensi manusia sesuai tujuan penciptaannya.
Islam menempatkan kesehatan sebagai bagian dari tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), khususnya dalam aspek hifẓ al-nafs atau menjaga jiwa. Jiwa dalam pandangan Islam mencakup aspek fisik, mental, dan sosial yang saling berkaitan.
Lima Dimensi Kesehatan dalam Islam
Konsep kesehatan Islam bersifat holistik dan mencakup lima dimensi utama. Pertama, dimensi fisik atau jasmani, yang menekankan pentingnya menjaga tubuh melalui konsumsi makanan halal dan thayyib, kebersihan, olahraga, serta istirahat yang cukup. Al-Qur’an melarang perilaku yang merusak tubuh, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 195 yang melarang manusia menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
Kedua, dimensi mental atau emosional. Islam mengajarkan pengelolaan emosi melalui doa, zikir, dan tawakal agar manusia mencapai ketenangan batin (nafs al-muṭma’innah). Praktik spiritual ini terbukti berperan besar dalam menjaga stabilitas psikologis.
Ketiga, dimensi spiritual, yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan hati hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah (QS. Ar-Ra‘d: 28). Kesehatan spiritual dipandang sebagai inti yang memengaruhi dimensi kesehatan lainnya.
Keempat, dimensi sosial. Islam memandang manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan harmonis, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Prinsip ukhuwah, tolong-menolong, dan keadilan sosial menjadi dasar terciptanya kesehatan sosial.
Kelima, dimensi intelektual. Islam menempatkan akal sebagai anugerah besar yang menjadi dasar pengambilan keputusan rasional dan etis, termasuk dalam menjaga kesehatan. Pemanfaatan akal secara benar mendorong pola hidup sehat yang ilmiah dan bertanggung jawab.
Relevansi di Era Modern
Di era modern, perubahan gaya hidup memicu berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Dalam kondisi ini, nilai-nilai Islam dinilai tetap relevan sebagai pedoman membangun pola hidup sehat yang seimbang. Islam menganjurkan moderasi dalam makan dan minum, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-A‘raf ayat 31, serta pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman.
Selain itu, Islam juga menekankan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Al-Qur’an menyebut malam sebagai waktu istirahat agar manusia dapat memulihkan tenaga dan menjaga kesehatan fisik serta mental (QS. An-Naba: 9–11).
Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Ibadah
Menjaga kesehatan dalam Islam bukan sekadar upaya individual, melainkan bagian dari ibadah dan bentuk syukur atas nikmat Allah SWT. Kesadaran ini diharapkan dapat dimulai dari diri sendiri, lalu diterapkan dalam keluarga dan masyarakat.
Dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang tenang, manusia diharapkan mampu menjalankan perannya secara optimal serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang kuat, produktif, dan berkeadaban. Inilah makna sejati kesehatan dalam Islam—sehat yang menuntun manusia pada kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
*red














